Pemkot Bengkulu Bangun Pusat Studi Gempa Tahun Ini
Pemerintah Kota Bengkulu tahun ini akan memulai pembangunan pusat studi gempa berupa Taman Pendidikan bagi pelajar.
Menurut Walikota Bengkulu Ahmad Kanedy, Senin (23/2/2009), melalui pembangunan pusat studi gempa itu, semua hal yang berkaitan dengan gempa dan tsunami bisa dipahami masyarakat khususnya pelajar.
“Kita sudah siapkan lahannya seluas 4 hektare, di sekitar lapangan Kelurahan Lempuing, jaraknya sekitar 200 meter dari lokasi wisata Pantai Panjang,” kata Kanedy seperti dikutip dari Antaranews.com.
Kanedy mengatakan, pembangunan taman pendidikan ini akan berlangsung selama tiga tahun dan untuk kegiatan pembangunan tahun ini sudah tersedia dana Rp10 miliar, berasal dari APBD Kota Bengkulu dan APBD Provinsi Bengkulu.
Sesuai perencanaan, kata dia, tahap pertama akan dilakukan pembangunan taman dan sejumlah gedung, diantaranya gedung pertemuan, laboratorium yang dilengkapi peralatan pendeteksi gempa.
“Alat-alat yang berhubungan dengan pendeteksi gempa akan kita tempatkan di laboratorium sehingga pelajar paham bagaimana bentuk alat pendeteksi gempa dan alat pengukur kekuatan gempa,” ujarya.
Selain sejumlah gedung, taman pendidikan ini juga akan dilengkapi sejumlah sarana untuk menggelar simulasi gempa bumi khususnya bagi pelajar.
Taman pendidikan ini juga akan menjadi pusat informasi bagi masyarakat Kota Bengkulu terkait potensi gempa yang ada dan mungkin terjadi di daerah ini.
“Kita akan siapkan seluruh informasi tentang gempa bumi dan bagaimana kaitannya dengan tsunami, juga informasi tentang kondisi patahan lempeng yang sewaktu-waktu bisa bergerak sehingga menimbulkan gempa, sehingga masyarakat siaga bencana,” tandas dia.
Terkait kurang optimalnya sejumlah alat pendeteksi gempa dan sistem peringatan dini tanda tsunami berupa sirene yang terpasang di sejumlah titik di dalam Kota Bengkulu, menurut Kanedy akan tetap dioptimalkan.
Namun yang paling penting menurut dia yakni kesiapsiagaan masyarakat karena peralatan tersebut bisa saja aus termakan usia namun kunci penyelamatan dan pengurangan resiko bencana terletak di kesiapsiagaan masyarakat.
“Secanggih apapun alat kalau masyarakatnya tidak siap akan percuma, tapi bagaimana agar kewaspadaan yang baik dari masyarakat dan ditunjang dengan peralatan yang memadai akan menjadi modal untuk menghadapi bencana,” tuturnya.


kayaknya serius tu..
takutnya sekedar perencanaan duank..
tapi dukung de.. mudah2an bengkulu bisa maju dengan alat pendeteksi gempa itu.. hehehe
^_~
setuju-setuju saja ada Pusat Studi Gempa, tapi Studi Kelayakannya harus benar2 matang, jangan sampai dana APBD keluar begitu banyak tapi manfaatnya hanya dapat dinikmati oleh segelincir orang yang terlibat project tersebut.